Lembaga Pemantau Desak Bawaslu Periksa Ariady Arsal Dan Andre Tanta

by -49 views

RETORIKA.CO.ID, MAKASSAR – Badan Pengawasan Pemilihan Umum (Bawaslu) Kota Makassar masih melakukan investigasi untuk mendalami dugaan pelanggaran Caleg Ariady Arsal dan Andre Prasetyo Tanta.

“Kemarin kami sudah melakukan pleno untuk menetapkan 2 dugaan pelanggaran tersebut untuk dijadikan informasi awal. Tindak lanjutnya adalah investigasi untuk menggali informasi lebih dalam. Beberapa pihak terkait akan kami undang untuk memberikan klarifikasi terkait dugaan pelanggaran yang dimaksud,” ungkap Zulfikarnain, Divisi Pengawasan dan Hubungan Antar Lembaga Bawaslu Kota Makassar, Senin (19/2/19).

Untuk kejelasan status pelanggaran tersebut, Zulfikarnain mengatakan, masih akan memanggil beberapa pihak untuk diklarifikasi dan jika memenuhi unsur pelanggaran maka akan disorong ke Gakkumdu.

“Nanti setelah mengundang beberpa pihak untuk diklarifikasi, baru kita plenokan lagi. Apakah memenuhi unsur pelanggaran atau tidak. Jika memenuhi unsur maka akan dijadikan temuan pelanggaran dan dibahas di Gakkumdu bersama Polisi dan Jaksa,” terang Zulfikarnain.

Sementara itu, Wakil Ketua LSM PERAK, Masran, SH, MH, mengatakan Ariady Arsal dan Andre Prasetyo Tanta diduga kuat terindikasi melakukan pelanggaran pemilu.

“Dalam baliho tersebut, mereka diduga menjanjikan atau memberikan uang atau materi lainnya kepada peserta pemilu sebagaimana diatur dalam Pasal 523 ayat (1) juncto Pasal 280 ayat (1) huruf j UU No 7 Tahun 2017 tentang Pemilu,” kata Masran. Selasa, (20/2/19).

Sejauh ini, Masran mengapresiasi kinerja Bawaslu dalam menindaklanjuti temuan LSM PERAK sebagai pemantau pemilu. Menurutnya, Bawaslu telah bekerja secara aktif dan profesional dalam pencegahan, pengawasan dan penindakan.

Ia pun kembali mendesak Bawaslu Kota Makassar segera memanggil dan memeriksa pemilik baliho serta mengawal kasus ini sampai ke tahapan penuntutan.

“Sudah sangat jelas, sanksi diatur dalam Pasal 523 (1) yang menjelaskan bahwa setiap pelaksana, peserta, dan/atau tim kampanye Pemilu yang dengan sengaja menjanjikan atau memberikan uang atau materi lainnya sebagai imbalan kepada peserta Kampanye secara langsung ataupun tidak langsung sebagaimana dimaksud dalam Pasal 280 ayat (1) huruf j dipidana dengan pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun dan denda paling banyak Rp. 24.000.000,- (dua puluh empat juta rupiah). Ayat (2) setiap pelaksana, peserta, dan/atau tim kampanye Pemilu yang dengan sengaja pada masa tenang menjanjikan atau memberikan imbalan uang atau materi lainnya kepada Pemilih secara langsung ataupun tidak langsung sebagaimana diatur dalam Pasal 278 ayat (2) dipidana dengan pidana penjara paling lama 4 tahun dan denda paling banyak Rp 48.000.000.00
Ayat (3) bahwa setiap orang yang dengan sengaja pada hari pemungutan suara menjanjikan atau memberikan uang atau materi lainnya kepada pilih untuk tidak menggunakan hak pilihnya atau memilih peserta pemilu tertentu dipidana penjara paling lama 3 tahun dan denda paling paling banyak Rp.36.000.000.00, Bawaslu harus mengawal perkara ini untuk tahap selanjutnya, yaitu proses penuntutan guna menjamin kepastian hukum dan keadilan pemilu,” kata Alumni S2 Fakultas Hukum Universitas Airlangga Surabaya ini.

Masran juga meminta Bawaslu Kota Makassar harus berani menindak tegas Ariady Arsal dan Andre Prasetyo Tanta, agar tidak menjadi contoh yang buruk dalam dunia pemilu di Indonesia dan di Sulsel pada khususnya.

“Kalau dibiarkan berarti kita melakukan terjadi pembiaran dan pelanggaran pemilu yang jelas-jelas ada di depan mata,” tegas mantan Ketua SBSI Kota Kendari ini.

Sebelumnya, diketahui Lembaga Pemantau Pemilu (LPP) LSM PERAK menemukan adanya Caleg DPR RI dari Partai PKS atas nama H. Ariady Arsal dan Caleg DPRD Sulsel dari Partai Nasdem Andre Prasetyo Tanta diduga melakukan tindak pidana pemilu. Ariady Arsal kedapatan melakukan pemasangan baliho yang bertuliskan “SIM Seumur Hidup” dan “Bebas Pajak Motor”. Begitupun Andy Wilianto Tanta yang menuliskan di balihonya “100% X 5 tahun gajinya untuk rakyat”.
(dhito)