PERAK : Ini Bukti Puskesmas Pattingalloang Terindikasi Korupsi

by -137 views

Makassar, Retorika,co,id – Lembaga Swadaya Masyarakat Pembela Rakyat (LSM PERAK) bereaksi keras terkait tanggapan Kadis Kesehatan Kota Makassar, dr. Naisyah T. Azikin, M.Kes yang mengatakan tidak ada data dan bukti permasalahan pada proyek pembangunan 15 unit Puskesmas Kota Makassar. Dimana sebelumnya proyek tersebut sudah dilaporkan ke kejati Sulsel oleh Divisi Hukum LSM PERAK Sulsel.

Menanggapi hal tersebut, Wakil Ketua LSM PERAK Sulsel, Masran Amiruddin, SH, MH mengatakan, klaim Kadis Kesehatan kepada sejumlah media dinilai hanya untuk menyembunyikan kesalahan yang faktanya terjadi di lapangan. Alahasil Puskesmas Pattingalloang yang baru dibangun namun sudah mengalami kerusakan.

“Katanya sudah sesuai prosedur dan di tangani oleh konsultan pengawas, namun fakta kami menemukan Puskesmas Pattingalloang pekerjaannya tidak beres dan jauh dari standar dan kualitas. Anehnya, kenapa berani membuat berita acara penyerahan pekerjaan atau PHO padahal pembangunan puskesmas tersebut diduga kuat tidak sesuai standar kelayakan,” ungkapnya, Senin (4/3/19).

Lanjut Masran, ada beberapa bagian yang sudah rusak. Dimana kerusakan tersebut juga dikeluhkan oleh pasien yang melakukan rawat inap.

“Ada 2 toilet yang tersumbat dan tidak dapat difungsikan di lantai 2 ruang perawatan, airnya sampai tergenang. Parahnya, ada 3 ruangan di lantai 1 yang terdampak rembesan air dari lantai 2. Diantaranya, kamar obat, ruang telemedicine dan toilet di lantai 1,” ungkap Alumni S2 Fakultas Hukum Universitas Airlangga Surabaya ini.

Pihaknya juga menemukan pas di area toilet di lantai 1, ada air menetes dari lantai dua melalui lampu yang ada di plafon, akibatnya lantai pada toilet licin dan kotor. Tentunya, rembesan air ini dapat mempengaruhi kondisi lantai dan bangunan secara keseluruhan.

“Patut diduga saluran pembuangan air atau sanitasinya mengalami kesalahan kerja. Apakah pipanya tersumbat, bocor ataukah memang tidak ada. Bangunan ini jelas diduga asal jadi karena keburu waktu dan ingin cepat dibayar kontraktornya,” jelas mantan Dosen Fakultas Hukum Unhalu Kendari ini.

Masran juga menambahkan, ada lagi yang lebih parah, yakni pemasangan instalasi listrik, dimana kabelnya dan sambungannya hanya di bungkus lakban, belum lagi kabelnya berada pada posisi yang sangat rendah dibagian tembok depan puskesmas.

“Kabel listriknya terlihat dan sambungannya pun di bawah, bahaya untuk pasien khususnya bagi anak-anak karena posisinya dapat dijangkau oleh anak-anak. Liftnya juga pengadaan baru tapi belum dapat difungsikan,” lanjut Masran.

Terpisah, Ketua LSM PERAK Sulsel, Adiarsa MJ mengatakan, sebaiknya Ibu Kadis sebelum mengeluarkan pernyataan di media dipikir-pikir dulu.

“Bu Kadis kan minta bukti, nah ini tim saya sudah turun baru di satu puskesmas. Faktanya pekerjaan jauhlah dari kata layak dan asas manfaatnya,” ucapnya.

Adiarsa kembali menegaskan, pihaknya akan memasukkan bukti laporan tambahan ke penegak hukum terkait apa yang sudah timnya temukan di Puskesmas Pattingalloang.

“Bu Kadis jangan hanya duduk di meja saja, ayo sini kami tunjukkan proyek pekerjaan pembangunan puskesmas ini yang anda bilang tidak ada masalah,” tegas aktivis anti korupsi ini.

Adiarsa kembali mendesak segera Kejati Sulsel dan tim TP4D-nya turun melihat langsung proyek pekerjaan pembangunan Puskesmas Pattingalloang.

“Kalau menurut kami ini fatal pekerjaannya, silahkan kacamata hukumnya Kejati yang melihat langsung,” tandasnya.

Menurutnya, fakta di lapangan, ini jelas pembiaran yang dilakukan Kadis Kesehatan Kota Makassar.

“Patut diduga ada fee dan bagi-bagi keuntungan yang diperoleh Kadis dan PPK-nya agar tutup mata terkait hasil pekerjaan di Puskesmas Pattingalloang dan beberapa puskesmas lainnya,” tambah Adiarsa.

Ia juga mengingatkan jika dibiarkan sanitasi di toilet tergenang air dan tetap digunakan oleh pasien, maka sangat memungkinkan pasien akan terkena virus dan gangguan kesehatan lainnya.

“Dalam Permenkes nomor 13 tahun 2015 sudah jelas standar bangunan yang dikatakan layak untuk sebuah Puskesmas. Kasihan kalau pasien datang berobat dan mau sembuh malah tambah sakit,” tutup Adiarsa.
(*)