Antara Realitas Psikologis dan Sosiologis  Oleh : Hadi Soetrisno 

oleh -12 views

Fenomena penggiringan Opini publik diantara dua kubu yang saling klaim sedang kita nikmati dalam berbagai informasi, baik di Medsos, seperti Facebook, YouTube, Media elektronik/cetak.

Hal  ini dapat kita lihat dalam Pidato Probowo dimana kesan dan pesan yang ingin disampaikan adalah Bahwa Dia tidak percaya dengan Quickqount (hitungan cepat), karena Itu Dia klaim,

Pak jokowi apakah percaya dengan Quickqount ? juga tidak, sebab Jokowi belum klaim, Dia tidak percaya, hal ini dapat kita baca dari bahasa tubuhnya, karena kalau Dia percaya pasti Dia Klaim juga. Oleh karena itu ada realitas psikologis dan Sosiologis, realitas psikologis ada sama Prabowo karena Dia menganggap gairah perubahan pergantian kekuasaan ada sama Dia, sementara realitas Sosiologis ada sama Jokowi meskipun tidak diucapkan secara terbuka.

Ada pengetahuan dalam realitas yang terwakili melalui statistik, tapi ada hal yang belum selesai baik Quickqount maupun Realqount, dua keadaan yang tidak dapat ditengahi oleh siapapun, kita diperhadapkan sesuatu yang tidak jelas, jika kita enggan mengatakan palsu.

Saat ini kita sedang diperhadapkan oleh dua keadaan ekstrim, Ada yang ingin memenangkan psikolologis Itu ada pada prabowo, sebaliknya yang ingin memenangkan realitas sosilogis bahwa realitas (kenyataan) telah terjadi Itu ada pada Jokowi.

untuk mengatasi dua keadaan ekstrim tersebut, harus ada diskresi dari KPU untuk tampil memberikan Sistem Public Adress dan itu tidak nampak, menandakan bahwa KPU juga dalam keadaan panik, metodologi sering digunakan sebagai bentuk ilmiah, kredible dan akuntabel

Namun terlepas dari semua Itu, metodologi sebagai sesuatu ilmiah namun dalam  penggunaan dan pemanfaatannya sering kali  disalah gunakan oleh kepentingan sehingga orang sering menyebutnya politis.

(Hadi Soetrisno)